[Tentang .... Daun yang jatuh tak pernah membenci angin]
Ibu benar tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku ibu. Perasaan kagum, terpesona dan entahlah itu muncul begitu saja tanpa bisa tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Lagi-lagi tere liye mengajarkan suatu hal yang baru nan berharga tanpa harus menggurui. Ya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin..... Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Mengikhlaskan cintanya, bahwa cinta tak harus memiliki, bahwa perasaan tak harus diungkap. Tak mengapa, tak seharusnya masalah berbelit pada perasaan, tak seharusnya masalah berbelit pada ke egoismenan. Aku akan diam jika itu adalah masalah cintaku.
Tapi daun yang jatuh tak pernah membenci angin juga mengajarkan hal lain. Ya mengajarkan...... Mengajarkan bahwa hidup harus menerima..... Penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti..... Pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami..... Pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemajaman itu datang. Tak masalah, meski Lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
Kau benar.... Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan ia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin membawanya pergi entah kemana. Dan kelak semuanya akan mengerti, semuanya akan memahami dan semua akan menerima.
Biarlah..... Biarlah aku menerima semua
Semua kepahitan yang telah terjadi.
Biarlah... Biarlah aku jatuh kebumi
Jatuh terhempas kencangnya angin
Seperti daun
Daun yang tak akan pernah membenci angin
Meski ia harus terpisah dari pohonnya.
-nurulhanafi-
Komentar
Posting Komentar