PULANG
Pulang.
“ Pada akhirnya aku sadar, aku ingin pulang. Duhai Allah apa kau masih mau
menerima ke pulanganku ini? Aku tak bermaksud ingin berbuat durhaka kepadamu,
aku ingin pulang atau berhijrah untuk mu. Hijrahku hanya untuk Mu ” ( kata
seorang anak remaja SMA ). Dia anak yang rajin tapi mudah bosan sebut saja ia
hana. Entah kenapa ia bosan dengan aktivitasnya sehari-hari. Ia sudah bosan
hidup penuh dengan kemaksiatan. Ia berfikir ingin keluardari lingkungan nya dan
pulang ke lingkungan yang lebih baik. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun
terlalui, sampai pada detik itu juga si hana ini masih berada di lingkungan
lamanya. Entah kenapa ia juga berfikir terasa berat sekali meninggalkan
lingkungan lamanya.
“ ibuk aku ingin pulang..” ( kata hana sambil meneteskan air
mata ) “
Nak Apa yang kau katakan? Bukankah ini rumah mu, engkau mau pulang kemana? ” (
kata sang ibu sambil membelai rambut anaknya). “ aku ingin pulang ketempat yang lain bu
disini terasa membosankan” ( celoteh hana ) “ begitukah keinginanmu ?. “ iya” (
sambil memanggut- manggutkan kepalanya ). “ boleh ibu tahu kenapa ?” ( kata sang ibu dengan sedikit terkejut
mendengar permintaan anak nya ) “ aku sudah bosan ibu, hidup di lingkungan yang maksiat ini aku ingin
hijrah“.
“Ibu aku tak mau, terus- terusan menikmati senja yang
ditemani kebohongan. Duhai ibu, aku tahu, aku tidak bisa menjanjikan
kekayaan atau kesuksesan, karena semua itu hanya milik Allah. Aku juga
tak berani menjanjikan hidup mewah, karena
segala kemewahan itu hanya milik Allah. Aku juga takut menjanjikan surga karena surga itu milik Allah. Aku hanya mengajak untuk berjuang bersama dan tidak lelah
menemani, mengingatkan bila lalai dan melindungi bila ada bahaya menyapa. Meski
pada akhirnya kita sama-sama menyadari ibu bahwa semua kemudahan yang aku alami, ber upaya dan berjuang itu atas pertolongan Allah. Maka aku harus
menjelaskan nantinya, bahwa jika aku berhijrah, aku tidak pernah menjanjikan
dunia yang begitu diinginkan banyak orang itu, aku seperti ini ibu, aku tak bisa berpura- pura dihadapan orang lain”.
“ ibu aku tahu aku bukan anak yang baik untuk mu. Aku tak bisa menjanjikan kesuksesan dan hidup yang mewah untukmu, karena aku masih
bertahap mencari ilmu untuk sukses. Ibu jika aku dulu sangat menyakitimu aku minta maaf, aku
sangat mengharapkan maafmu ibu. Maka dari itu restui aku ibu untuk berhijrah
meninggal kan kampung ini, jika suatu saat aku lebih dahulu menghadap Tuhanku maka relakan aku ibu. aku sangat berdosa padamu. Aku tak menyadari kasih sayang mu
yang begitu dalam. Sudah 17 tahun ini aku sama sekali tak berfikir sudah berapa
butir trilyun nasi yang kau suapkan pada ku, sudah berapa juta gelas minum yang
kau hidang kan padaku. Maaf kan aku ibu jika tak menyadari itu.”
“ Dosaku terlalu banyak padamu, beritahu aku ibu
bagaimana caraku menebusnya.”
-nurulhanafi-
Komentar
Posting Komentar