Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

untukmu calon dokterku

Wahai calon dokterku, Tahukah engkau…? Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat… Karena ia begitu mulia dan sangat berharga dimataku… Segala talenta terpatri dalam jiwanya Mulai dari komunikasinya yang menghangatkan jiwa, Keahlian seorang detektif dalam diagnosanya, Jiwa seorang guru yang memberikan pengertian kepada pasiennya, Kemampuan persuasifnya… Kesabaran, kegigihan, keuletan, dan tanggung jawab yang diembannya… Sifat rela berkorbannya, keikhlasannya… dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan… Terimakasih calon dokterku, karena saat ini, engkau belajar, memahami, mencerna, dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku… calon pasienmu Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan… Dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku… pasienmu kelak… Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa… sungguh mulianya dirimu… Dan ku yakin engkau akan berkata “tidak, tidak...

impian yang ku dambakan sejak kecil akhirnya menangis dalam agenda harianku

Tak pernah terasa, waktu berputar begitu cepat. Kini aku tengah berada di penghujung masa SMA ku. Di masa SMA ku ini, begitu banyak orang-orang yang mewarnainya. Entah warna kesedihan, kesendirian, kesunyian, kebahagiaan, harapan, cinta dan cita cita.   Cita-cita? Aah apakah itu disebut cita-cita jika hanya merengek dalam sebuah buku... Ya, kini cita-cita yang kudambakan sejak kecil hanyalah menjadi layaknya seorang bayi yang merengek-rengek dalam sebuah buku agenda harianku. Karena akulah seseorang yang dengan keras menutupnya , akulah seorang yang membuatnya menangis. Itu bukan karena aku tak mampu meraihnya, tapi kebimbangan dalam hatikulah yang membuatku dengan rela menutup keras-keras cita citaku itu. lalu cita cita apa yang dengan rela aku menutupnya   dengan keras. Menjadi hafidzkah? Aah tidak kurasa aku sekarang tengah berjuang meraihnya. Menjadi dokterkah? Inilah cita-cita yang kudambakan sejak kecil, tapi juga cita-cita yang kubuat ia menangis. Lalu apakah...

cara menghafal alqur'an

"Nikmatnya hafal alqur'an" 1.    Menghafal tidak harus hafal. Yang penting menghafal dengan durasi rutin yang konsisten: satu satu jam sehari. 2.    Menghafal bukan untuk diburu-buru, tetapi juga bukan untuk ditunda-tunda. Sebab, syarat orang yang menghafal Al Qur’an itu tidak harus masih muda, sebagaimana syarat untuk mati, juga tidak harus sudah tua. 3.    Menghafal bukan untuk khatam, tetapi untuk hidup setia bersama Al Qur’an. Agar bisa lebih dekat bersama Allah. 4.    Menghafal merasa senang jika sedang dirindukan ayat. Jika ada ayat yang susah diingat/dihafalkan, maka sebenarnya orang itu sedang dirindukan ayat. “Karena saking rindunya ayat itu dengan kita, maka dia tidak mau beranjak dari kita. Allah sedang menghadiahkan kita untuk dikangenin sama ayat tersebut,” ujar Ust. Deden. Maka kita harus senang jika ada ayat yang lama dihafalkan. Namun, menghafalkan Al Qur’an itu harus tidak dengan “sabar”, tetapi dengan ...

ujian kesempatan

Tidak semua kesempatan datang untuk diambil, ada kalanya dan mungkin sering jika kesempatan itu datang sebagai ujian. Ujian untuk keteguhan hati kita pada sesuatu yang lebih pertama kita putuskan, lebih pertama kita pilih. Ditengah mengerjakan tugas akhir yang begitu sibuk, ada kesempatan ini dan itu yang menarik. Apakah harus diambil? Atau jangan-jangan itu hanya untuk menguji keteguhan hati kita dalam mengerjakan prioritas pertama kita? Ditengah kita mencintai seseorang dengan susah payah, lalu muncul kesempatan dari orang lain yang mungkin lebih mudah. Apakah harus diambil? Bukankah itu mungkin hanya untuk menguji keteguhan hati kita pada yang mula-mula kita pilih? Kesempatan itu ujian yang mungkin paling tidak kita sadari, kesempatan-kesempatan ‘emas’ yang datang, yang membuat kita menjadi ragu pada pilihan kita sebelumnya. Kesempatan yang membuat kita berpikir ulang tentang pilihan-pilihan kita sendiri. Menggoyang prioritas kita, menyelisih hati kita. Se...