Hilangnya pesona Academic Honesty
Mengawali
penulisan kali ini mengenai pendidikan dan permasalahannya yang begitu rumit,
ada baiknya kita mengingat kembali ungkapan dari Tan Malaka yang merupakan aktivis
legendaris pencetus berdirinya Republik Indonesia, “Tujuan pendidikan itu untuk
mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Dari
kalimat tersebut, Tan Malaka menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi
manusia dalam memperkokoh kemauan mengejar masa depan yang jauh lebih baik.
Layaknya sebuah penggembala, pendidikan menuntun agar sampai ditempat yang kita
inginkan. Adapun tempat yang kita inginkan misalnya kesuksesan meraih mimpi,
masa depan yang cerah, pribadi yang dihormati dan pastinya kebahagiaan diusia
senja.
Secara
tersirat makna dari ungkapan Tan Malaka tersebut lebih menekankan pada
pendidikan kejujuran karena kejujuranlah yang menjadi pondasi dari kecerdasan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kejujuran lah yang menjadi Aset utama untuk meraih
kesuksesan dan membangun masa depan yang jauh lebih baik. Seperti kata pepatah
asal Inggris, Waylon Jennins,” Honesty is
something you can't wear out because it’s bring succes and succes”. Artinya
kurang lebih adalah kejujuran tidak dapat dihindari selagi kita menginginkan
kesuksesan. Tan Malaka menilai kejujuran dapat terbentuk dari pendidikan
ataupun proses bembelajarannya. Namun bagaimana jika pendidikan yang diharapkan
mampu membentuk karakter kejujuran itu menjadi terhambat? Atau bahkan bisa
menjadi sarang ketidakjujuran?
Suatu
waktu (lebih tepatnya disaat saya masih duduk dibangku SMA) bersama teman-teman
sekelompok mendapat tugas dari guru mata pelajaran fisika untuk melakukan
penelitian dan membuatnya menjadi hasil laporan. Lantas apakah ada hubungan
antara penelitian tersebut dengan penulisan Esay ini?
Ya,
ada. Hubungannya adalah disaat pembuatan hasil laporan ada sedikit penambahan
dan pengurangan dikarenakan rumitnya objek yang akan diteliti. Sehingga dengan
sengaja kami melakukan praktik-praktik ketidakjujuran dalam pembuatan Laporan
hasil penelitian. Ironis! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut.
Fenomena ketidak jujuran itu terjadi ditempat pendidikan dan disaat proses
pembelajaran.
Sampai
saat ini di indonesia, tolak ukur keberhasilan seseorang ditentukan oleh tinggi
rendahnya pendidikan formal yang didapatkan. Sehingga dengan tolak ukur
tersebut menuntut para pelajar maupun guru, dosen maupun mahasiswa melakukan cheatting (kecurangan) untuk mendapatkan
nilai yang semaksimal mungkin. Padahal salah satu esensi pendidikan ialah
menjadikan manusia yang berintegritas melalui penerapan nilai-nilai agama,
kejujuran, dan kedisiplinan. Dalam dunia pendidikan, istilah kejujuran meluas
dengan adanya istilah baru yakni kejujuran akademik atau Academic Honesty. Kejujuran akademik merupakan aspek dari
Integritas Akademik (Academic Integrity).
Dr.
Tracey Bretag, seorang peneliti dari University
of South Australia, menjelaskan integritas akademik sebagai tindakan yang
berdasarkan pada nilai kepercayaan, keadilan, menghargai, tanggung jawab,
rendah hati, dan kejujuran itu sendiri. Kenyataanya aspek kejujuran paling
banyak mendapat sorotan dari akademisi didunia karena banyaknya kasus yang
mencerminkan nilai-nilai ketidakjujuran dalam diri seseorang baik itu pelajar
maupun pendidik. Kasus yang saya alami diatas merupakan satu dari ribuan kasus
lainnya seperti mencontek pada saat ujian, plagiatisme ataupun lainnya yang
berkaitan dengan akademik dan dengan tujuan mendapat keberhasilan. Lantas
bagaimana dengan kejujuran akademik di Indonesia?
Jujur,
saya sangat prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia saat ini. Bangsa
Indonesia seperti mulai krisis moral apalagi sekarang ini informasi-informasi
apapun mudah diakses. Banyak sekali kasus kecurangan akademik yang saya temui
baik dengan mata kepala sendiri maupun dari media-media informasi, Seakan-akan
mulai memperlihatkan hilangnya pesona kejujuran akademik yang senantiasa
menjadi lambang pendidikan diIndonesia dahulu. Mencontek misalnya, tindakan
kejahatan tersebut telah menjadi tradisi disaat ujian. Ironisnya tindakan kejahatan
itu terkadang didukung oleh pihak guru. Contohnya disaat musim ujian nasional
berlangsung banyak sekali guru yang memberikan kunci jawaban kepada peserta
ujian. Apalagi tujuannya selain untuk mendapatkan nilai yang memuaskan?
Realitanya
tidak jauh berbeda dengan kondisi pendidikan di Hidayatullah. Saya menilai
perlu adanya komprehensif bersama untuk menumbuhkan karakter jujur disetiap
orang, khususnya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan dihidayatullah yang sudah empat puluh lima tahun berkhidmad
untuk bangsa agar jauh lebih baik.
Academic honesty sebagai pondasi dasar Hidayatullah
menuju Generasi Emas
Kejujuran
merupakan tolak ukur integritas seseorang atau kualitas moral seseorang.
Semakin tinggi kualitas moral seseorang pastinya ia akan mampu membentuk sebuah
masyarakat yang ideal. Selanjudnya masyarakat ideal akan membentuk generasi
yang ideal pula atau bahasa kerennya generasi emas. Mantan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh, mengatakan, “sejak tahun 2010 sampai
2035 nanti, bangsa Indonesia akan dikarunai potensi sumber daya manusia (SDM)
berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa, atau yang lebih
dikenal dengan istilah bonus demografi”. Kesempatan tersebut seharusnya dapat
dimanfaatkan olah bangsa indonesia khususnya hidayatullah untuk mensukseskan
tujuan pendidikan karakter kejujuran akademik, karena disinilah peran strategis
pembangunan pendidikan dan disini pula inti dari generasi emas, yakni generasi
yang mampu membawa perubahan dengan bediri dikaki sendiri.
Generasi emas tidak melulu berbicara mengenai kecerdasan
intelektual saja melainkan karakternya juga harus emas. Hakekatnya karakter
emas lah yang menjadi pondasi paling kokoh. Untuk itu investasi SDMnya juga
harus merabah pada karakter manusia, yakni manusia yang jujur.
Menumbuhkan
Academic Honesty melalui character education
Character
education atau pendidikan karakter adalah sebuah pendidikan yang
mengajarkan nilai-nilai karakter manusia ideal di lingkungan pendidikan.
Pendidikan karakter menekankan pada nilai-nilai kebaikan didalam diri manusia. Salah
satu nilai kebaikan dalam diri manusia adalah bersikap jujur, terutama
kejujuran akademik. Oleh karenanya sangat diperlukan strategi yang efektif
untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.
Adapun strategi untuk menumbuhkan pendidikan karakter
didalam sekolah- sekolah atau kampus- kampus terdapat empat cara yang
berkesinambungan, yakni; (1)
Pembelajaran, artinya nilai-nilai kejujuran akademik itu harus disampaikan
oleh guru melalui proses pembelajaran seperti semboyan pendidikan ing ngarso sung tulodo yang berarti yang
didepan atau pendidiklah yang harus memberi contoh terlebih dahulu, (2) Keteladanan, artinya kejujuran
akademik itu harus diaplikasikan atau dimodelkan oleh para komponen pendidikan
di sekolah/kampus. (3) Penguatan,
sekolah/kampus dapat membuat program khusus, seperti pembuatan banner/spanduk
yang menjelaskan pentingnya kejujuran akademik dengan tujuan untuk memperkuat
nilai kejujuran tersebut. (4) Pembiasaan,
sekolah harus membuat pembiasaan terhadap kejujuran akademik itu, seperti
misalnya melarang plagiarisme, melarang mencontek, berlaku curang, dan
sebagainya. Keempat cara itu akan terlaksana dengan baik apabila semua komponen
pendidikan mampu menerapkannya dengan baik pula.
Sebagai penutup saya ingin menekankan kalimat ini khususnya
untuk calon generasi emas Hidayatullah karena merekalah yang akan meneruskan
tombak perjuangan hidayatullah, “Lebih baik gagal dari pada berhasil tapi
pembohong”. Kira- kira mau memilih yang mana?
NB: Essay ini lolos dalam lomba karya tulis silatnas III hidayatullah se-Indonesia. untuk lebih lengkapnya silahkan mengunjungi web resmi hidayatullah, hidayatullah.or.id
Komentar
Posting Komentar